jual butuh uang mendesak ....LM ...10gr 2 keping @Rp. 5.300.000, 25gr 1
keping @ Rp. 13. 200.000 dan 50gr @Rp. 26.100.000 yg serius hubungi no HP
087877177237
Selasa, 10 April 2012
Motivasi ( dari : Mario Teguh )
Motivasi ( dari : Mario Teguh )
- Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus anda takuti. Akan tetapi anda harus lebih takut untuk tidak tumbuh sama sekali. Maka tumbuhkanlah diri anda dengan kecepatan apapun itu.
- Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan
- Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru
- Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap anda salah
- Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang yang berbakat
- Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi orang tua yang masih melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat muda.
- Semakin banyak yang Anda inginkan, akan semakin banyak yang hanya tinggal jadi keinginan. Fokus pada satu keinginan memungkinkan pencapaian banyak keinginan
- Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah
Minggu, 08 April 2012
Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum PAI
Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum PAI
PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan alat/ kunci dalam prosess pendidikan
formal. Tidak mengherankan apabila alat ini selalu dirombak atau
ditinjau kembalii untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan zaman. Oleh
sebab itu kurikulum juga harus selalu berkembang.
Istilah
pengembangan menunjuk pada suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara
baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap alat
atau cara tersebut terus dilakukan. Bila setelah mengalami
penyempurnaan-penyempurnaan akhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup
mantap untuk digunakan seterusnya, maka berakhirlah kegiatan pengembangan
tersebut. Kegiatan pengembangan kurikulum mencakup penyusunan kurikulum itu
sendiri, pelaksanaan di sekolah-sekolah yang disertai dengan penilaian
intensif.
Di
dalam makalah ini yang berhubungan dengan perkembangan kurikulum, maka peran
guru di dalam pengembangannya sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran
yang akan dilaksanakan secara kurikulum yang bersifat sentral maupun desentral,
keduanya memerlukan penerapan dan perkembangan dari peran guru tersebut. Begitu
juga dengan perkembangan kurikulum PAI, maka dari itu makalah ini akan membahas
tentang peran guru terhadap perkembangan kurikulum yang akan membuka wawasan
kita dalam hal peranan guru dalam pengembangan kurikulum PAI.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengembangan Kurikulum
Centre
for Educational Research and Innovation (CERI) coba mendefinisikannya sebagai
berikut curriculum development is the process of analiting and refining goals,
aims and objektives, together with the translation of these into the content of
courses by formal or informal methods. (CERI, handbook on curriculum
development, P.12)
Pada pengembangan kurikulum ialah
mengarahkan kurikulum ketujuan pendidikan yang diharapkan karena adanya
berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya dari luar atau dalam,
dengan harapan agar peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik.
Oleh karena itu pengembangan kurikulum hendaknya bersifat antisipatif, adaptif
dan aplikatif.
Pada
dasarnya pengembangan kurikulum adalah mengarahkan kurikulum sekarang ketujuan
pendidikan yang diharapkan karana adanya berbagai pengaruh yang sifatnya
positif yang datangnya dari luar atau dari dalam sendiri dengan harapan agar
peserta didik dapat menghadapi masa depannya dengan baik.
B. Peranan
Guru dalam Pengembangan Kurikulum
Guru
memegang peranan yang cukup penting baik didalam perencanaan maupun pelaksanaan
kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi
kelasnya. Sekalipun ia tidak mencetuskan sendiri, konsep-konsep tentang
kurikulum, guru merupakan penerjemah kurikulum yang datang. Dialah yang
mengolah, meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan di kelasnya.
Karena guru juga merupakan barisan pengembangan kurikulum yang terdepan maka
guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum,
sebagai pelaksana kurikulum maka guru pulalah yang menciptakan kegiatan belajar
mengajar bagi murid-muridnya. Berkat keahlian keterampilan dan kemampuan
seninya dalam mengajar, guru mampu menciptakan situasi belajar yang aktif yang
menggairahkan yang penuh kesungguhan dan mampu mendorong kreatifitasnya anak.
Dilihat
dari segi pengelolaannya, pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang
bersifat sentralisasi, desentralisasi, sentral desentral :
1. Peranan
Guru dalam Pengembangan Kurikulum yang Bersifat Sentralisasi
dalam
kurikulum yang bersifat guru tidak mempunyai peranan dan evaluasi kurikulum
yang bersifat makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro.
Kurikulum makro disusun oleh tim khusus yang terdiri atas para ahli.
Penyusunan kurikulum mikro dijabarkan dari kurikulum makro. Guru menyusun
kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun, satu semester,
beberapa minggu, atau beberapa hari saja. Kurikulum untuk satu tahun, satu
semester disebut juga program tahunan. Sedangkan kurikulum untuk beberapa
minggu, beberapa hari disebut satuan pelajaran. Program tahunan, atupun satuan
pelajaran memiliki komponen-komponen yang sama yaitu tujuan, bahan pelajaran,
metode dan media pembelajaran dan evaluasi hanya keluasan dan kedalamannya
berbeda-beda. Menjadi tugas gurulah menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat
memilih dan menyusun bahan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan minat dan
tahap pengembangan anak memiliki metode dan media mengajar yang bervariasi
serta menyusun metode dan alat yang tepat. Suatu kurikulum yang tersusun secara
sistematis dan rinci akan sangat memudahkan guru dalam emplimentasinya.
Walaupun kurikulum sudah tersusun dengan berstruktur, tapi guru masih mempunyai
tugas untuk mengadakan penyempurnaan dan penyesuaian-penyesuaian.
Implementasi
kurikulum hampir seluruhnya bergantung pada kreatifitas, kecakapan, kesungguhan
dan ketekunan guru. Guru juga berkewajiban untuk menjelaskan kepada para
siswanya tentang apa yang akan dicapai dengan pengajarannya, membangkitkan
motivasi belajar, menciptakan situasi kompetitif dan kooperatif dan memberikan
pengarahan juga bimbingan.
2. Peranan
Guru dalam Pengembangan Kurikulum yang Bersifat Desentralisasi
kurikulum
desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam
suatu wilayah atau daerah. Kurikulum ini diperuntukan bagi suatu sekolah
ataupun lingkungan wilayah tertentu. Pengembangan kurikulum semacam ini
didasarkan oleh atas karakteristik, kebutuhan, perkembangan daerah serta
kemampuan sekolah, atau sekolah-sekolah tersebut. Dengan demikian kurikulum
terutama isinya sangat beragam, tiap sekolah atau wilayah mempunyai kurikulum
sendiri tetapi kurikulum ini cukup realistis. Bentuk kurikulum ini mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya antara lain :
pertama,
kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat setempat. Kedua,
kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah baik kemampuan
profesional, finansial dan manajerial. Ketiga, disusun oleh guru-guru sendiri
dengan demikian sangat memudahkan dalam pelaksanaannya. Keempat, ada motivasi
kepada sekolah (kepala sekolah, guru), untuk mengembangkan diri, mencari dan
menciptakan kurikulum yang sebaik-baiknya, dengan demikian akan terjadi semacam
kompetisi dalam pengembangan kurikulum.
Beberapa
kelemahan kurikulum ini adalah 1) tidak adanya keseragaman untuk situasi yang
membutuhkan keseragaman demi persatuan dan kesatuan nasional, bentuk ini kurang
tepat. 2) tidak adanya standart penilaian yang sama sehingga sukar untuk
diperbandingkannya keadaan dan kemajuan suatu sekolah/ wilayah dengan sekolah/
wilayah lainnya. 3) adanya kesulitan bila terjadi perpindahan siswa kesekolah/
wilayah lain. 4) sukar untuk mengadakan pegelolaan dan penilaian secara nasional.5)
belum semua sekolah/ daerah mempunyai kesiapan untuk menyusun dan mengembangkan
kurikulum sendiri.
3. Peranan
Guru dalam Pengembangan Kurikulum yang Bersifat Sentral Desentral
Untuk
mengatasi kelemahan kedua bentuk kurikulum tersebut, bentuk campuran antara
keduanya dapat digunakan yaitu bentuk sentral desentral. dalam kurikulum yang
yang dikelola secara sentralisasi desentralisasi mempunyai batas-batas tertentu
juga, peranan guru dalam dalam pengembangan kurikulum lebih besar dibandingkan
dengan yang dikelola secara sentralisasi. Guru-guru turut berpartisipasi, bukan
hanya dalam penjabaraban kurikulum induk ke dalam program tahunan/ semester/
atau satuan pelajaran, tetapi juga di dalam menyusun kurikulum yang menyeluruh
untuk sekolahnya. Guru-guru turut memberi andil dalm merumuskan dalam setiap
komponen dan unsur dari kurikulum. Dalam kegiatan yang seperti itu, mereka
mempunyai perasaan turut memilki kurikulum dan terdorong untuk mengembangkan
pengetahuan dan kemampuan dirinya dalam pengembangan kurikulum.
Karena
guru-guru sejak awal penyusunan kurikulum telah diikut sertakan, mereka
memahami dan benar-benar menguasai kurikulumnya, dengan demikian pelaksanaan
kurikulum di dalam kelas akan lebih tepat dan lancar. Guru bukan hanya berperan
sebagi pengguna, tetapi perencana, pemikir, penyusun, pengembang dan juga
pelaksana dan evaluator kurikulum.
C. Pengembangan
Kurikulum PAI
Pengembangan
kurikulum Pendidikan Agama Islam(PAI) dapat diartikan sebagai:
(1)
kegiatan menghasilkan kurikulum PAI atau (2) proses yang mengkaitkan satu
komponen dengan yang lainnya untuk menghasilkan kurikulum PAI yang lebih
baik;dan/ atau(3) kegiatan penyusunan (desain), pelaksanaaan, penilaian dan
penyempurnaan kurikulum PAI. Dalam realitas sejarahnya, pengembangan kurikulum
PAI tersebut ternyata mengalami perubahan-perubahan paradigma, walaupun dalam
beberapa hal-hal tersebut masih tetap dipertahankan hingga sekarang. Hal ini
dapat dicermati dari fenomena berikut: (1) perubahan dari tekanan pada hafalan
dan daya ingatan tentang teks-teks dari ajaran-ajaran agtama islam, serta
disiplin mental spiritual sebagaimana pengaruh dari timur tengah, kepada
pemahaman tujuan, makna dan motivasi beragama islam untuk mencapai tujuan
pembelajaran PAI: (2) perubahan dari cara berpikir tekstual, normative, dan
absolutis kepada cara berpikir historis, empiris, dan kontekstual dalam
memahami dan menjelaskan ajaran-ajaran dan nilai-nilai agama Islam: (3)
perubahan dari tekanan pada produk atau hasil pemikiuran agama Islam daripada
pendahulunya kepada proses atau metodologinya sehingga menghasilkan produk
tersebut: dan(4) perubahan dari pola pengembangan kurikulum PAI yang hanya
mengandalkan pada para pakar dalam memilih dan menyusun isi kurikulum PAI
kearah keterlibatan yang luas dari para pakar, guru, tujuan PAI dan cara-cara
mencapainya.
D. Fungsi
Kurikulum PAI
1. Bagi
sekolah/madrasah yang bersangkutan;
a.
sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam yang diinginkan atau
dalan istilah KBK disebut standar kopetensi PAI, meliputi fungsi dan tujuan
pendidikan nasional, kompetensi lintas kurikulum, kompetensi tamatan/lulusan,
kompetensi bahan kajian PAI, kopmpetensi mata pelajaran PAI ( TK,SD/MI,
SMP/MTs, SMA/MA ), kompetensi mata pelajaran kelas (Kelas I, II, III, IV, V,
VI, VII, VIII, IX, X, XI, XII);
b.
pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan Agama Islam di
sekolah/madrasah.
2. Bagi
sekolah/madrasah atau diatasnya;
a.
Melakukan
penyesuaian
b.
Menghindari
keterulangan sehingga boros waktu
c.
Menjaga
kesinambungan.
3. Bagi
masyarakat;
a.
Masyarakat
sebagai pengguna lulusan (users), sehingga sekolah/madrasah harus mengetahui
hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam konteks pengembangan PAI;
b.
Adanya
kerja sama yang harmonis dalam hal pembenahan dan pengembangan kurikulum PAI.
E. Proses
Pengembangan Kurikulum
Dalam
menyusun perencanaan ini kurikulum bisa berasal dari :
1.
Visi yang dicanangkan
Visi
adalah the statement of ideas or hopes, yakni pernyataan tentang cita-cita atau
harapan-harapan yang ingin dicapai oleh suatu nlembaga pendidikan dalam jangka
panjang.
2.
kebutuhan stakeholders, (siswa, masyarakat, pengguna lulusan), dan kebutuhan
untuk studi lanjutan.
3.
Hasil evaluasi kurikulum sebelumnya dan tuntutan perkembangan iptek dan zaman.
4.
Pandangan-pandangan para pakar dengan berbagai latar belakangnya.
5.
Kecendrungan era globalisasi yang menuntut seseorang untyuk memiliki etos
belajar sepanjang hayat, melek sosial, ekonomi, politik, budaya dan teknologi.
Kelima ide tersebut kemudian diramu sedemikian rupa untuk dikembangkan dalam
program atau kurikulum sebagai dokumen, yang antara lain berisin : informasi
dan jenis dokumen yang dihasilkan ; bentuk/format silsbus ; dan
komponen-komponen kurikulum yang harusdikembangkan, apa yang tertuang dalam dokumen
tersebut kemudian dikembangkan dan disosialisasikan dalam proses
pelaksanaannya, yang dapat berupa pengembangan kurikulum dalam bentuk satuan
acara pembelajaran atau SAP, proeses pembelajaran di kelas atau di luar kelas,
serta evaluasi pembelajaran, sehingga diketahui tingkat efisiensi dan
efektivitasnya, dari evaluasi ini akan diperoleh umpan balik (feed back) untuk
digunakan dalam penyempurnaan kurikum berikumnya, dengan demikian, proses
pengambangan kurikum munutut adanya evaluasi secara berkelanjutan mulai dari
perencanaan, implementasi hingga evaluasinya itu sendiri.
Karena itu, pengembangan kurikulum PAI perlu dilakukan secara terus menerus
guna merespon dan mengantisipikasi pengembangan dan tuntutan yang ada tanpa
harus menunggu pergantian Menteri Pendidikan Nasional atau Menteri Agama.
Apabila saat ian masyarakat sudah memasuki era globalisasi, baik dibidang iptek
maupun sosial, politik, budaya dan etika. Hal ini akan berimplikasi pada
banyaknya masalahpendidikan yang harus segera diatasi, tanpa harus menunggu
nunggu keputusan dari atas.
A.
Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum PAI
Dalam konteks pendidikan Islam,
Kamrani Buseri menekankan bahwa peranan pendidik adalah untuk menumbuhkan nilai
Illahiah terhadap peserta didik, nilai Illahiah berkaitan dengan konsep tentang
ketuhanan dan segala sesuatu bersumber dari Tuhan. Nilai Illahiah berkaitan
dengan nilai Imaniah, Ubudiyah dan Mualamah, dalam hal ini pendidik mesti
berusaha sekuat kemampuannya untuk mengembangkan diri peserta didik terhadap
nilai-nilai tersebut. Peranan pendidik dalam penumbuhan nilai-nilai Illahiah
akan lebih meningkat bila disertai dengan berbagai perubahan, penghayatan, dan
penerapan strategi dengan perkembangan jiwa peserta didik yang disesuaikan
dengan jiwa peserta didik.
PENUTUP
SIMPULAN
Dari semua yang telah dijabarkan,
yakni tentang perkembangan kurikulum dari segi pembahasan fungsi maupun
beberapa sifat kurikulum yang berkaitan dengan perkembangannya. Kemudian
dilihat dari pentingnya peran guru dalam perkembangannya maka bisa dikatakan
amat berpengaruh besar terhadap proses pembelajaran.
Dalam
kurikulum guru tidak mempunyai peranan dan evaluasi kurikulum yang bersifat
makro, mereka lebih berperan dalam kurikulum mikro. Kurikulum makro
disusun oleh tim khusus yang terdiri atas para ahli. Penyusunan kurikulum mikro
dijabarkan dari kurikulum makro. Kurikulum Desentralisasi disusun oleh sekolah
ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah. Kurikulum
ini diperuntukan bagi suatu sekolah ataupun lingkungan wilayah tertentu.
Pengembangan kurikulum semacam ini didasarkan oleh atas karakteristik,
kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah, atau sekolah-sekolah
tersebut.
Untuk
mengatasi kelemahan kedua bentuk kurikulum tersebut, bentuk campuran antara
keduanya dapat digunakan yaitu bentuk sentral desentral.
Dalam
pengembangan kurikulum PAI, peran guru atau pendidik adalah Dalam konteks
pendidikan Islam, menekankan bahwa peranan pendidik adalah untuk menumbuhkan
nilai Illahiah terhadap peserta didik, nilai Illahiah berkaitan dengan konsep
tentang ketuhanan dan segala sesuatu bersumber dari Tuhan. Nilai Illahiah
berkaitan dengan nilai Imaniah, Ubudiyah dan Mualamah.
Rabu, 21 Maret 2012
Ma’rifatullah
Ma’rifatullah
بسم الله الرحمن الرحيمMA’RIFATULLAH
معرفة الله
Muqadimah
Mengenal Allah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap insan. Karena dengan mengenal Allah, seseorang akan lebih dapat mengenali dirinya sendiri. Dengan mengenal Allah seseorang juga akan dapat memahami menegenai hakekat keberadaannya di dunia ini; untuk apa ia diciptakan, kemana arah dan tujuan hidupnya, serta tanggung jawab yang dipikulnya sebagai seorang insan di muka bumi. Dengan lebih mengenal Allah, seseoran juga akan memiliki keyakinan bahwa ternyata hanya Allah lah yang Maha Pencipta, Maha Penguasa, Maha Pemelihara, Maha Pengatur dan lain sebagainya. Sehingga seseorang yang mengenal Allah, seakan-akan ia sedang berjalan pada sebuah jalan yang terang, jelas dan lurus.
Mengenal Allah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap insan. Karena dengan mengenal Allah, seseorang akan lebih dapat mengenali dirinya sendiri. Dengan mengenal Allah seseorang juga akan dapat memahami menegenai hakekat keberadaannya di dunia ini; untuk apa ia diciptakan, kemana arah dan tujuan hidupnya, serta tanggung jawab yang dipikulnya sebagai seorang insan di muka bumi. Dengan lebih mengenal Allah, seseoran juga akan memiliki keyakinan bahwa ternyata hanya Allah lah yang Maha Pencipta, Maha Penguasa, Maha Pemelihara, Maha Pengatur dan lain sebagainya. Sehingga seseorang yang mengenal Allah, seakan-akan ia sedang berjalan pada sebuah jalan yang terang, jelas dan lurus.
Sebaliknya, tanpa pengenalan terhadap Allah, manusia
akan dilanda kegelisahan dalam setiap langkah yang dilaluinya. Ia tidak
dapat memahami hakekat kehidupannya, dari mana asalnya, kemana arah
tujuannya dan lain sebagainya. Seakan akan ia sedang berjalan di sebuah
jalan yang gelap, tidak tentu dan berkelok. Dalam Al-Qur’an Allah SWT
menggambarkan (QS. 6 :122) :
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي
بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ
مِنْهَا
كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami
hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan
cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang
sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan
orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.”
Urgensi Ma’rifatullah
Sebagaimana disinggung di atas, bahwa orang yang
mengenal Allah, ia akan memahami hakekat kehidupannya. Oleh karenanya ia
tidak akan mudah silau dan tertipu oleh kemilaunya kehidupan dunia.
Allah berfirman (QS. 51:56) mengenai tujuan hidup manusia di dunia:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
Berikut adalah beberpa poin penting mengenai urgensi (baca; ahamiyah) ma’rifatullah:وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.
1. Tidak akan tertipu oleh kemilaunya kehidupan dunia.
Allah berfirman (QS. 6 : 130):
يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ
يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ
هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى
أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang
kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan
kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap
pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas
diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka
menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang
yang kafir.”
2. Karena Allah SWT adalah Rab semesta alam.Allah berfirman (QS. 13 : 16):
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ قُلِ اللَّهُ قُلْ
أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لاَ يَمْلِكُونَ لأَفُسِهِمْ
نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَمْ
هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ
خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ قُلِ اللَّهُ
خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
“Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?”
Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil
pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai
kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”.
Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah
gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa
sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga
kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah
adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa”.
3. Karena wujud (eksistensi) dan keberadaan Allah SWT didukung oleh dalil-dalil yang kuat:a) Dalil Naqli (tekstual)
Allah berfirman (QS. 6 : 19):
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي
وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لأُنْذِرَكُمْ بِهِ
وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً
أُخْرَى قُلْ لاَ أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي
بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
“Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat
persaksiannya?” Katakanlah: “Allah. Dia menjadi saksi antara aku dan
kamu. Dan Al Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi
peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur’an
(kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan
yang lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”.
Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan
sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan
Allah)”.
b) Dalil AkalAllah berfirman (QS. 3 : 190):
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأََرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لأَيَاتٍ لأُولِي الألَبْاَبِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal.”
c) Dalil FitrahAllah berfirman (QS. 7 : 172):
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ
وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى
شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا
غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan
keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”
Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
“Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap
ini (keesaan Tuhan)”,
4. Memiliki manfaat atau faidah yang banyak:
Dengan mengenal Allah secara baik dan benar, maka
secara langsung atau tidak langsung akan lebih mendekatkan diri kita
kepada Allah SWT. Dan jika kita dekat dengan Allah, maka Allah pun akan
dekat pula dengan kita. Hal ini merupakan hal yang paling pokok bagi
seorang hamba. Karena bagi dirinya orientasinya hanya lah Allah dan
Allah. Tiada kebahagiaan hakiki baginya, selain cinta Ilahi. Namun di
samping itu terdapat hal-hal positif lainnya dengan adanya ma’rifatullah
ini, diantaranya adalah:
a) Kebebasan (الحرية)
Allah berfirman (QS. 6 : 82)
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
a) Kebebasan (الحرية)
Allah berfirman (QS. 6 : 82)
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan
iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang
mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk.
b) Ketenangan (الطمأنينة)Allah berfirman (QS. 13 : 28)
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
c) Barakah (البركة)Allah berfirman (QS. 7 : 96):
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ
بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ
بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka
Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
d) Kehidupan yang baik (الحياة الطيبة)Allah berfirman (QS. 16 : 97)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ
فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan
Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami
beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan.”
e) Syurga (الجنة)Allah berfirman (QS. 10 : 25-26)
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلاَ يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ
قَتَرٌ وَلاَ ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا
خَالِدُونَ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang
terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu
hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka
kekal di dalamnya.”
f) Mardhatillah. (مرضاة الله)Allah berfirman (QS. 98 : 8)
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha
kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut
kepada Tuhannya.”
Cara Untuk Mengenal Allah
Untuk menuju tujuan tertentu, tentulah diperlukan
cara atau metode yang telah tertentu pula. Metode yang baik dan benar
akan dapat mengantarkan kita pada hasil yang baik dan benar pula.
Demikian juga sebaliknya, cara atau metode yang salah, akan membawa kita
pada hasil yang salah pula. Dan secara garis besar, terdapat dua cara
untuk mengenal Allah SWT. Pertama, melalui ayat-ayat Allah yang bersifat
qauliyah. Kedua, melalui ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyah.
Pertama : Melalui ayat-ayat qauliyah.
Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat Allah SWT yang
difirmankan-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an. Ayat-ayat ini menyentuh
berbagai aspek yang dapat menunjukkan kita untuk lebih mengenal dan
meyakini Allah SWT. Sebagai contoh, Allah SWT berfirman dalam (QS. 88:
17 – 20), dimana Allah SWT memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sangat
menghujam lubuk hati seorang insan yang paling dalam, untuk membenarkan
keberadaan Allah Yang Maha Pencipta:
أَفَلاَ يَنْظُرُونَ إِلَى اْلإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ * وَإِلَى السَّمَاءِ
كَيْفَ رُفِعَتْ* وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ * وَإِلَى الأَرْضِ
كَيْفَ سُطِحَتْ*
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta
bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan
gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia
dihamparkan?”
Contoh lain adalah bagaimana Allah SWT memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang sesungguhnya tiada jawaban yang dapat mereka
berikan melainkan hanya kesaksian mengenai Keagungan, Kebesaran dan
Kekuasaan Allah SWT. Allah berfirman (QS. 27 : 60 – 66)
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ
مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ
تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ
* أَمَّنْ جَعَلَ الأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلالَهَا أَنْهَارًا
وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَئِلَهٌ
مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ *أَمَّنْ يُجِيبُ
الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ
الأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ * أَمَّنْ
يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ
الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ
تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ* أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ
يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ
اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * قُلْ لاَ
يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا
يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ * بَلِ ادَّارَكَ عِلْمُهُمْ فِي
اْلآخِرَةِ بَلْ هُمْ فِي شَكٍّ مِنْهَا بَلْ هُمْ مِنْهَا عَمُونَ*
“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi
dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan
air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali
tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada
tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang
menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi
sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di
celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengkokohkan)
nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping
Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka
tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (do`a) orang yang
dalam kesulitan apabila ia berdo`a kepada-Nya, dan yang menghilangkan
kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi?
Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu
mengingati (Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di
daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai
kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah
ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka
persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari
permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang
memberikan rezki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah
ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: “Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika
kamu memang orang-orang yang benar”. Katakanlah: “Tidak ada seorangpun
di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali
Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana)
malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka
buta daripadanya.”
Selain dua contoh di atas, masih banyak sekali
contoh-contoh lain yang dapat mengantarkan kita untuk dapat mengenal dan
lebih mengenal Allah SWT lagi.
Kedua : Melalui ayat-ayat kauniyah
Ayat-ayat kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah
yang terdapat pada ciptaan-Nya, baik yang berada di dalam diri manusia,
di alam, di angkasa, di dalam lautan, di jagad raya dan lain
sebagainya. Karena pada hekekatnya, ketika manusia merenungkan segala
ciptaan Allah yang Maha Sempurna ini, akan membawa pada pengenalan dan
pengesaan (baca; pentauhidan) terhadap Allah SWT. Allah berfirman dalam
QS. 67 : 3 – 4:
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ
الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ*
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis,
kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah
sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi
niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan
sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”
Bahkan dalam ayat lain, Allah seolah memberikan
tantangan kepada orang yang tidak mengakui ciptaan-Nya, untuk
menunjukkan ciptaan-ciptaan selain-Nya. Allah mengatakan (QS. 31 : 11)
هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ
هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلاَلٍ مُبِينٍ
“Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu
kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain
Allah. Sebenarnya orang-orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan
yang nyata.”
Pada intinya adalah bahwa sesungguhnya segala apa
yang ada di bumi, di langit, di jagad raya, juga di dalam diri kita
sendiri, merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Tanda-tanda tersebut
demikian banyaknya hingga dapat dikatakan tak terbilang. Hanya karena
keterbatasan kitalah, kita tidak mampu untuk menghitung ayat-ayat Allah
tersebut. Berikut adalah diantara ayat-ayat kauniyah yang dapat
mengenalkan kepada Allah SWT:
1. Fenomena adanya alam.
1. Fenomena adanya alam.
Jika terdapat sesuatu yang sangat indah dan
mempesona, maka pastilah ada yang membuatnya. Sebagai contoh, ketika
kita melihat ada sebuah rumah yang sangat bagus dan indah. Tentulah
rumah tersebut ada yang membangunnya. Karena tidak mungkin, rumah itu
ada dan berdiri sendiri dengan kebetulan, tanpa ada yang menciptakannya.
Demikian juga dengan alam yang sangat indah ini, dengan berbagai siklus
alamnya yang demikian sempurna. Ada sinar matahari yang tidak membakar
kulit, ada oksigen yang kadar dan komposisinya sangat sesuai dengan
manusia, ada air yang merupakan sumber kehidupan, ada pepohonan, ada
hewan, ada bakteri dan demikian seterusnya. Sesungguhnya hal seperti itu
merupakan tanda-tanda yang jelas mengenai Allah SWT. Bila ciptaan-Nya
saja begitu indah dan sempurna, maka apatah lagi dengan Penciptanya.?
Mengenai hal ini, Allah berfirman (QS. 3 : 190):
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal.”
Kita dapat membayangkan, sekiranya dunia ini tidak
diselimuti oleh atmosfer, atau tiada pepohonan yang mengeluarkan
oksigen, atau tiada penawar kotoran seperti lautan, atau hal-hal lain
yang menyeimbangkan siklus perputaran kehidupan di dunia? Barangkali
kita semua saat ini sudah punah. Belum lagi jika kita menengok ke
angkasa raya, di mana seluruh planet berserta gugusan bintang-bintang,
semua berjalan sesuai dengan ‘jalurnya’ masing-masing. Sehingga tiada
yang saling bertabrakan satu dengan yang lainnya. Lagi-lagi sebuah
pertanyaan muncul, siapakan yang dapat mengatur segalanya dengan sangat
teliti, sempurna dan tiada cacat? (Biarkanlah relung hati kita yang
paling dalam untuk menjawabnya sendiri..)
2. Fenomena kehidupan dan kematian
Kehidupan dan kematian juga merupakan salah satu
tanda kebesaran Allah SWT. Di mana hal ini ‘memaksa’ manusia untuk
berfikir keras tentang fenomena hidup dan mati. Jika seluruh makhluk itu
hidup dan kemudian mati, tentulah di sana terdapat Dzat yang
Menghidupkan dan Mematikan. Jika seseorang, Allah kehendaki untuk mati,
maka apapun yang dilakukan untuk menolongnya akan menjadi sia-sia.
Demikian juga dengan fenomena kehidupan; terkadang seseorang yang telah
terfonis ‘mati’ oleh medis, ternyata dapat dan mampu bertahan hidup
hingga beberapa tahun ke depan. Dan menyikapi hal seperti ini, manusia
terpaksa harus mengakui ‘kekerdilannya’, meskipun tekhnologi canggih
telah mereka kuasai. Namun mereka sama sekali tidak kuasa menghadapi
fenomena ini. Mereka akhirnya harus mengembalikan segala sesuatunya
hanya kepada Allah. Karena pada-Nyalah kita semua akan kembali. Mengenai
hal ini Allah berfirman (QS. 2 : 28)
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu
tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan
dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?”
Penghalang Dalam Mengenal Allah
Meskipun demikian, manusia tetaplah manusia dengan
segala sifat baik dan buruk yang terdapat dalam dirinya. Bagi mereka
yang dapat memenejemen dirinya mengikuti sifat baiknya, maka hal ini
tidak akan menjadi masalah. Namun manakala mereka mengikuti sifat buruk
dalam dirinya, tentulah hal ini dapat menjadi penghalang dalam menempuh
jalan menuju pengenalan terhadap Allah SWT. Secara garis besar terdapat
beberpa hal (yang harus kita hindari) yang menghalangi manusia untuk
mengenal Allah, diantaranya adalah:
1. Kefasikan (الفسق)
1. Kefasikan (الفسق)
Fasik adalah orang yang senantiasa melanggar perintah
dan larangan Allah, bergelimang dengan kemaksiatan serta senantiasa
berbuat kerusakan di bumi. Sifat seperti ini akan menghalangi seseorang
untuk mengenal Allah SWT. Allah menggambarkan mengenai sikap fasik ini
dalam (QS. 2 : 26 – 27):
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلاً مَا بَعُوضَةً فَمَا
فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ
رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ
اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا
وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِينَ* الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ
اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ
أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأَرْضِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ*
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan
berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang
beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan
mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah
menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang
yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang
yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali
orang-orang yang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian
Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang
diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat
kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
2. Kesombongan (الكبر)
Kesombongan merupakan suatu sikap dimana hati
seseorang ingkar dan membantah terhadap ayat-ayat Allah, dan mereka
tidak beriman kepada Allah SWT. Allah berfirman (QS. 16 : 22):
إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
“Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka
orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari
(keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang
sombong.”
3. Kedzaliman (الظلم)
Sifat kedzaliman merupakan sifat seseorang yang
menganiaya, baik terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, ataupun
terhadap ayat-ayat Allah SWT. Mengenai sifat ini, Allah berfirman dalam
(QS. 32 : 22):
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang
telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling
daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada
orang-orang yang berdosa.”
4. Kedustaan (الكذب)
Kedustaan merupakan sikap bohong dan pengingaran.
Dalam hal ini adalah membohongi dan mengingkari ayat-ayat Allah SWT.
Allah berfirman QS. 2 : 10
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”
5. Banyak melakukan perbuatan maksiat (dosa) (كثرة المعاصي)Allah berfirman (QS. 83 : 14):
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
6. Kejahilan/ kebodohan (الجهل)Allah berfirman (QS. 29 : 63) :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ
الأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ
لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ
“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka:
“Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air
itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”.
Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak
memahami (nya).”
7. Keragu-raguan (الإرتياب)Allah berfirman dalam (QS. 22 : 55) :
وَلاَ يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ
السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ
“Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam
keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat
(kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari
kiamat. Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam
keragu-raguan terhadap Al Qur’an, hingga datang kepada mereka saat
(kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari
kiamat.”
8. Penyimpangan (الإنحراف)Allah berfirman (QS. 5 : 13):
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ
قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا
ذُكِّرُوا بِهِ وَلاَ تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلاَّ
قَلِيلاً مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِينَ
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami
kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka
merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja)
melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya,
dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka
kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka
maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik.”
9. Kelalaian (الغفلة)Allah berfirman dalam (QS. 7 : 179):
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ
قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا
وَلَهُمْ آذَانٌ
لاَ يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
لاَ يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَاْلأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka
Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi
tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai.”
Tauhidullah
Tauhidullah berarti mengesakan Allah SWT, dari segala
apapun yang ada di dunia ini. Dan secara garis besar, tauhid dibagi
menjadi tiga bagian; pertama Tauhid Rububiyah. Kedua; Tauhid Mulkiyah,
dan Ketiga; Tauhid Uluhiyah.
1. Tauhid Rububiyah.
Dari segi bahasa, Rububiyah berasal dari kata rabba
yarubbu (ربّ – يربّ) yang memiliki beberapa arti, yaitu : ( المربي
/al-Murabbi) Pemelihara, ( النصير/al-Nashir) Penolong, ( الملك
/al-Malik) Pemilik, ( المصلح / al-Muslih) Yang Memperbaiki, ( السيد
/al-Sayid) Tuan dan ( الولي / al-Wali) Wali.
Sifat rububiyah bagi Allah merupakan sifat Allah sebagai Maha Pencipta, Maha Pemilik, dan Maha Pengatur seluruh alam. Dalam tauhid ini, kita diminta untuk mengesakan Allah sebagai Pencipta yang telan mencipta segala sesuatu dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Hanya Allah-lah yang memberikan rizki dan hanya Allah lah sebagai Penguasa yang menguasai seluruh alam ini.
Menurut fungsinya, tauhid rububiyah pada Dzat Allah terbagi menjadi tiga:
a) Allah sebagai Pencipta (خالقا)Sifat rububiyah bagi Allah merupakan sifat Allah sebagai Maha Pencipta, Maha Pemilik, dan Maha Pengatur seluruh alam. Dalam tauhid ini, kita diminta untuk mengesakan Allah sebagai Pencipta yang telan mencipta segala sesuatu dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Hanya Allah-lah yang memberikan rizki dan hanya Allah lah sebagai Penguasa yang menguasai seluruh alam ini.
Menurut fungsinya, tauhid rububiyah pada Dzat Allah terbagi menjadi tiga:
Allah SWT berfirman (QS. 2 : 21-22):
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ
مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ * الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ
فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً
فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا
لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ*
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah
menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah
Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap,
dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan
hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu
janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui.”
b) Allah sebagai Pemberi rizki (رازقا)Allah berfirman (QS. 51 : 57-58):
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ* إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ*
“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka
dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya
Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat
Kokoh.”
c) Allah sebagai Pemilik (مالكا)Allah berfirman (QS. 284) :
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي
أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ
يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam
hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat
perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni
siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Tauhid rububiyah ini merupakan landasan bagi seluruh
kaum muslimin untuk bersyukur kepada Allah SWT. Karena pada hakekatnya
dalam menempuh kehidupan dunia, mereka senantiasa bertemu dengan ciptaan
Allah, dengan pemberian rizki dari Allah dan juga menggunakan segala
‘fasilitas’ miliki Allah SWT. Mereka tidak mungkin lari dari kenyataan
ini.
2. Tauhid Mulkiyah.
Dari segi bahasa, mulkiyah berasal dari kata malika
yamliku (ملك – يملك), yang artinya memiliki dan berkuasa penuh atas yang
dimiliki. Sedangkan dari segi istilahnya adalah mengesakan Allah SWT
sebagai satu-satunya penguasa, pemimpin, satu-satunya pembuat hukum
(aturan) dan pemerintah. Tauhid mulkiyah pada Allah meliputi
a) Allah sebagai pemimpin (وليا)
Allah berfirman (QS. 7 : 196):
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
a) Allah sebagai pemimpin (وليا)
Allah berfirman (QS. 7 : 196):
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ
“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.”
Dalam ayat lain Allah menggambarkan (QS. 18 : 50)
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلآئِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاّ
إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
أَفَتَتَّخِذُونَهُ
وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً
وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلاً
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para
malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali
iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah
Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai
pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah
iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.”
b) Allah sebagai pembuat hukum/ undang-undang (حاكما)Allah berfirman (QS. 6 : 57):
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ
“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. “
c) Allah sebagai pemerintah/ yang berhak memerintah (آمرا)
Allah berfirman (QS. 7 : 54)
بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.”
3. Tauhid Uluhiyah.
Uluhiyah berasal dari kata Aliha ya’lihu, (أله –
يأله) artinya menyembah. Sedangkan dari segi istilah adalah mengesakan
Allah SWT dalam penyembahan/ peribadahan. Tauhid uluhiyah pada Allah ini
mencakup tiga hal:
a) Allah sebagai tujuan (غاية)
Allah berfirman (QS. 6 : 162):
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
a) Allah sebagai tujuan (غاية)
Allah berfirman (QS. 6 : 162):
قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
b) Allah sebagai Dzat yang kita mengabdikan diri pada-Nya (معبودا)Allah berfirman (QS. 109: 1-6)
قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ* لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ* وَلاَ
أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ * وَلاَ أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ*
وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ* لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ*
“Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak
akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang
aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu
sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku
sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”.
Dengan mentauhidkan Allah melalui tiga bentuknya ini, insya Allah akan membawa kita untuk menjadikan Allah sebagai:
1. (ربا مقصودا)
Rab yang menjadi tujuan segala amalan dan aktivitas
kita, baik yang bersifat ibadah ataupun muamalah, bersifat individu
maupun secara bersama-sama. Karena tiada tujuan lain dalam hidup kita
selain hanya Allah dan Allah.
2. (ملكا مطاعا)
Penguasa yang senantiasa kita taati segala
undang-undang dan aturan hukum yang Allah berikan kepada kita, baik yang
terdapat dalam Al-Qur’an maupun yang terdapat dalam sunnah Rasulullah
SAW.
3. (إلها معبودا)
Tuhan yang senantiasa kita sembah, di mana tiada
sesembahan lain dalam hati kita, dalam fikiran kita dan dalam jasad kita
selain hanya untuk pengabdian kepada Allah SWT.
Penutup
Dengan mengenal Allah SWT, kita akan lebih dapat
untuk mendekatkan diri kita kepada-Nya secara baik dan benar. Karena
pemahaman yang baik akan mengantarkan pada amalan yang baik. Amalan yang
baik akan mengarah pada hasil yang baik. Dan hasil yang baik, insya
Allah akan mendapatkan keridhaan Allah SWT. Semoga Allah SWT menjadikan
kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang benar-benar mentauhidkannya
dalam segenap aspek kehidupan kita. Dan kita berlindung kepada-Nya dari
kemusyrikan-kemusyrikan, baik yang kita sadari ataupun yang tidak kita
sadari…
اللهم إنا نعوذ بك من أن نشرك بك شيئا نعلمه ونستغفرك لما لا نعلمه
Wallahu A’lam Bis Shawab.By. Rikza Maulan, Lc. M.Ag.
Bahan Bacaan
Azzam, Abdullah. Al-Aqidah wa Atsaruha fi Bina’ al-Jail. 1991 – 1411. Cet I. Kairo – Mesir : Dar al-Isra’.
Al-Buraikan, Ibrahim Muhammad bin Abdullah. Pengantar Studi Aqidah Islam. Terj. 1998. Cet. I. Jakarta : Robbani Press & Al-Manar.
Al-Munawir, Ahmad Warson. Al-Munawir : Kamus Arab – Indonesia. Tanpa tahun. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren Al-Munawir.
Al-Qardhawi, Yusuf. Wujudullah (Silsilah Aqa’id al-Islam I). 1990 – 1410. Cet. III. Kairo – Mesir : Maktabah Wahbah.
Kelompok Studi Islam Al-Ummah Jakarta. Aqidah Seorang Muslim. 1994. Jakarta : Nidzam Press.
CD. ROM. Al-Qur’an 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).
CD. ROM. Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.
Al-Buraikan, Ibrahim Muhammad bin Abdullah. Pengantar Studi Aqidah Islam. Terj. 1998. Cet. I. Jakarta : Robbani Press & Al-Manar.
Al-Munawir, Ahmad Warson. Al-Munawir : Kamus Arab – Indonesia. Tanpa tahun. Yogyakarta : Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren Al-Munawir.
Al-Qardhawi, Yusuf. Wujudullah (Silsilah Aqa’id al-Islam I). 1990 – 1410. Cet. III. Kairo – Mesir : Maktabah Wahbah.
Kelompok Studi Islam Al-Ummah Jakarta. Aqidah Seorang Muslim. 1994. Jakarta : Nidzam Press.
CD. ROM. Al-Qur’an 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).
CD. ROM. Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.
Ma’rifatur Qur’an
Ma’rifatur Qur’an
بسم الله الرحمن الرحيمMA’RIFATUL QUR’AN
معرفة القرآن
Muqadimah
Ketika manusia mencoba mengupas keagungan Al-Qur’an
Al-Karim, maka ketika itu pulalah manusia harus tunduk mengakui
keagungaan dan kebesaran Allah SWT. Karena dalam Al-Qur’an terdapat
lautan makna yang tiada batas, lautan keindahan bahasa yang tiada dapat
dilukiskan oleh kata-kata, lautan keilmuan yang belum terfikirkan dalam
jiwa manusia dan berbagai lautan-lautan lainnya yang tidak terbayangkan
oleh indra kita. Oleh karenanya,
mereka-mereka yang telah dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an sepenuh
hati, dapat merasakan ‘getaran keagungan’ yang tiada bandingannya.
Mereka dapat merasakan sebuah keindahan yang tidak terhingga, yang dapat
menjadikan orientasi dunia sebagai sesuatu yang teramat kecil dan
sangat kecil sekali. Sayid Qutub, di dalam muqadimah Fi Dzilalil
Qur’annya mengungkapkan:
الحياة في ظلال القرآن نعمة . نعمة لا يعرفها إلا من ذاقها . نعمة ترفع العمر وتباركه وتزكيه .
والحمد لله . . لقد منَّ علي بالحياة في ظلال القرآن فترة من الزمان ، ذقت فيها من نعمته ما لم أذق قط في حياتي .
والحمد لله . . لقد منَّ علي بالحياة في ظلال القرآن فترة من الزمان ، ذقت فيها من نعمته ما لم أذق قط في حياتي .
Hidup di bawah naungan Al-Qur’am merupakan suatu
kenikmatan. Kenikmatan yang tiada dapat dirasakan, kecuali hanya oleh
mereka yang benar-benar telah merasakannya. Suatu kenikmatan yang
mengangkat jiwa, memberikan keberkahan dan mensucikannya…. Dan
Al-Hamdulillah… Allah telah memberikan kenikmatan pada diriku untuk
hidup di bawah naungan Al-Qur’an beberapa saat dalam perputaran zaman.
Di situ aku dapat merasakan sebuah kenikmatan yang benar-benar belum
pernah aku rasakan sebelumnya sama sekali dalam hidupku.
Cukuplah menjadi bukti keindahan bahasa Al-Qur’an,
manakala diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Imam Zuhri (Abu Syahbah, 1996
: I/312):
Bahwa suatu ketika, Abu Jahal, Abu Lahab dan Akhnas
bin Syariq, yang secara sembunyi-sembunyi mendatangi rumah Rasulullah
SAW pada malam hari untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang
dibaca oleh Rasulullah SAW dalam shalatnya. Mereka bertiga memiliki
posisi yang tersendiri, yang tidak diketahui oleh yang lainnya. Hingga
ketika Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka bertiga memergoki
satu sama lainnya di jalan. Mereka bertiga saling mencela, dan membuat
kesepakatan untuk tidak kembali mendatangi rumah Rasulullah SAW. Namun
pada melam berikutnya, ternyata mereka bertiga tidak kuasa menahan
gejolak jiwanya untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat tersebut. Mereka
bertiga mengira bahwa yang lainnya tidak akan datang ke rumah Rasulullah
SAW, dan mereka pun menempati posisi mereka masing-masing. Ketika
Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka pun memergoki yang
lainnya di jalan. Dan terjadilah saling celaan sebagaimana yang kemarin
mereka ucapkan. Kemudian pada malam berikutnya, gejolak jiwa mereka
benar-benar tidak dapat dibendung lagi untuk mendengarkan Al-Qur’an, dan
merekapun menempati posisi sebagaimana hari sebelumnya. Dana manakala
Rasulullah SAW usai melaksanakan shalat, mereka bertiga kembali
memergoki yang lainnya. Akhirnya mereka bertiga membuat ‘mu’ahadah’
(perjanjian) untuk sama-sama tidak kembali ke rumah Rasulullah SAW guna
mendengarkan Al-Qur’an.
Masing-masing mereka mengakui keindahan Al-Qur’an,
namun hawa nafsu mereka memungkiri kenabian Muhammad SAW. Selain contoh
di atas terdapat juga ayat yang mengungkapkan keindahan Al-Qur’an. Allah
mengatakan (QS. 58 : 21):
لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا
مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada
sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah
disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat
untuk manusia supaya mereka berfikir.
Ta’rif.
Dari segi bahasa, Al-Qur’an berasal dari qara’a, yang
berarti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira’ah berarti menghimpun
huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan
yang rapih. (Al-Qattan, 1995 : 20) Mengenai hal ini, Allah berfirman
(QS. 75 : 17):
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ *
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ *
“Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya
(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah
selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”
Al-Qur’an juga dapat berarti bacaan, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, Allah SWT mengatakan (QS. 41 : 3):
كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”
Adapun dari segi istilahnya, Al-Qur’an adalah:
كَلاَمُ اللهِ الْمُعْجِزُ الْمُنَزَّلُ عَلَى قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتِرِ الْمُتَعَبَّدُ
بِتِلاَوَتِهِ
Al-Qur’an adalah Kalamullah yang merupakan mu’jizat
yang ditunukan kepada nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita
secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah.
Keterangan dari defini di atas adalah sebagai berikut:1. (كلام الله) Kalam Allah.
Bahwa Al-Qur’an merupakan firman Allah yang Allah
ucapkan kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan malaikat Jibril as.
Firman Allah merupakan kalam (perkataan), yang tentu saja tetap berbeda
dengan kalam manusia, kalam hewan ataupun kalam para malaikat.
Allah berfirman (QS. 53 : 4) :
إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
2. (المعجز) Mu’jizat.
Allah berfirman (QS. 53 : 4) :
إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Kemu’jizaan Al-Qur’an merupakan suatu hal yang sudah
terbukti dari semejak zaman Rasulullah SAW hingga zaman kita dan hingga
akhir zaman kelak. Dari segi susunan bahasanya, sejak dahulu hingga
kini, Al-Qur’an dijadikan rujukan oleh para pakar-pakar bahasa. Dari
segi isi kandungannya, Al-Qur’an juga sudah menunjukkan mu’jizat,
mencakup bidang ilmu alam, matematika, astronomi bahkan juga ‘prediksi’
(sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-Rum mengenai bangsa Romawi
yang mendapatkan kemenangan setelah kekalahan), dsb. Salah satu bukti
bahwa Al-Qur’an itu merupakan mu’jizat adalah bahwa Al-Qur’an sejak
diturunkan senantiasa memberikan tantangan kepada umat manusia untuk
membuat semisal ‘Al-Qur’an tandingan’, jika mereka memiliki keraguan
bahwa Al-Qur’an merupakan kalamullah. Allah SWT berfirman (QS. 2 : 23 –
24):
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا
بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ
كُنْتُمْ صَادِقِينَ* فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا
النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ
لِلْكَافِرِينَ*
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al
Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu
surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu
selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak
dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya),
peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu,
yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
Bahkan dalam ayat lainnya, Allah menantang
mereka-mereka yang ingkar terhadap Al-Qur’an untuk membuat semisal
Al-Qur’an, meskipun mereka mengumpulkan seluruh umat manusia dan seluruh
bangsa jin sekaligus (QS. 17 : 88):
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak
akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka
menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.
3. (المنزل على قلب محمد صلى الله عليه وسلم) Diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Bahwa Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah SWT
langsung kepada Rasulullah SAW melalui perantaraan malaikat Jibril as.
Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 192 – 195)
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ* نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ
الأَمِينُ* عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ بِلِسَانٍ
عَرَبِيٍّ مُبِينٍ *
“Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar
diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al Amin
(Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di
antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang
jelas.”
4. (المنقول بالتواتر) Diriwayatkan secara mutawatir.
Setelah Rasulullah SAW mendapatkan wahyu dari Allah
SWT, beliau langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada para sahabatnya.
Diantara mereka terdapat beberapa orang sahabat yang secara khusus
mendapatkan tugas dari Rasulullah SAW untuk menuliskan wahyu. Terkadang
Al-Qur’an ditulis di pelepah korma, di tulang-tulang, kulit hewan, dan
sebagainya. Diantara yang terkenal sebagai penulis Al-Qur’an adalah: Ali
bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai ibn Ka’b dan Zaid bin Tsabit.
Demikianlah, para sahabat yang lain pun banyak yang menulis Al-Qur’an
meskipun tidak mendapatkan instruksi secara langsung dari Rasulullah
SAW. Namun pada masa Rasulullah SAW ini, Al-Qur’an belum terkumpulkan
dalam satu mushaf sebagaimana yang ada pada saat ini.
Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Shidiq, atas usulan Umar bin Khatab yang khawatir akan hilangnya Al-Qur’an, karena banyak para sahabat dan qari’ yang gugur dalam peperangan Yamamah. Tercatat dalam peperangan ini, terdapat tiga puluh sahabat yang syahid. Mulanya Abu Bakar menolak, namun setelah mendapat penjelasan dari Umar, beliaupun mau melaksanakannya. Mereka berdua menunjuk Zaid bin Tsabit, karena Zaid merupakan orang terakhir kali membacakan Al-Qur’an di hadapan Rasulullah SAW sebelum beliau wafat. Pada mulanya pun Zaid menolak, namun setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar dan Umar, Allah pun membukakan pintu hatinya. Setelah ditulis, Mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar, kemudian pindah ke Umar, lalu pindah lagi ke tangan Hafshah binti Umar. Kemudian pada masa Utsman bin Affan ra, beliau memintanya dari tangan Hafsah. (Al-Qatthan, 1995 : 125 – 126).
Kemudian pada Utsman bin Affan, para sahabat banyak yang berselisih pendapat mengenai bacaan (baca; qiraat) dalam Al-Qur’an. Apalagi pada masa beliau kekuasan kaum muslimin telah menyebar sedemikian luasnya. Sementara para sahabat terpencar-pencar di berbagai daerah, yang masing-masing memiliki bacaan/ qiraat yang berbeda dengan qiraat sahabat lainnya. (Qiraat sab’ah). Kondisi seperti ini membuat suasana kehidupan kaum muslimin menjadi sarat dengan perselisihan, yang dikhawatirkan mengarah pada perpecahan. Pada saat itulah, Hudzifah bin al-Yaman melaporkan ke Utsman bin Affan, dan disepakati oleh para sahabat untuk mrnyslin mushaf Abu Bakar dengan bacaan/ qiraat yang tetap pada satu huruf. Utsman memerintahkan kepada (1) Zaid bin Tsabit, (2) Abdullah bin Zubair, (3) Sa’d bin ‘Ash, (4) Abdul Rahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin dan memperbanyak mushaf. Dan jika terjadi perbedaan diantara mereka, maka hendaknya Al-Qur’an ditulis dengan logat Quraisy. Karena dengan logat Quraisylah Al-Qur’an diturunkan. Setelah usai penulisan Al-Qur’an dalam beberapa mushaf, Utsman mengirimkan ke setiap daerah satu mushaf, serta beliau memerintahkan untuk membakar mushaf atau lembaran yang lain. Sedangkan satu mushaf tetap di simpan di Madinah, yang akhirnya dikenal dengan sebutan mushaf imam. Kemudian mushaf asli yang dipinta dari Hafsah, dikembalikan pada beliau. Sehingga jadilah Al-Qur’an dituliskan pada masa Utsman dengan satu huruf, yang sampai pada tangan kita. (Al-Qatthan, 1995 : 128 – 131)
5. (المتعبد بتلاوته) Membacanya sebagai ibadah.
Pengumpulan Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar Al-Shidiq, atas usulan Umar bin Khatab yang khawatir akan hilangnya Al-Qur’an, karena banyak para sahabat dan qari’ yang gugur dalam peperangan Yamamah. Tercatat dalam peperangan ini, terdapat tiga puluh sahabat yang syahid. Mulanya Abu Bakar menolak, namun setelah mendapat penjelasan dari Umar, beliaupun mau melaksanakannya. Mereka berdua menunjuk Zaid bin Tsabit, karena Zaid merupakan orang terakhir kali membacakan Al-Qur’an di hadapan Rasulullah SAW sebelum beliau wafat. Pada mulanya pun Zaid menolak, namun setelah mendapatkan penjelasan dari Abu Bakar dan Umar, Allah pun membukakan pintu hatinya. Setelah ditulis, Mushaf ini dipegang oleh Abu Bakar, kemudian pindah ke Umar, lalu pindah lagi ke tangan Hafshah binti Umar. Kemudian pada masa Utsman bin Affan ra, beliau memintanya dari tangan Hafsah. (Al-Qatthan, 1995 : 125 – 126).
Kemudian pada Utsman bin Affan, para sahabat banyak yang berselisih pendapat mengenai bacaan (baca; qiraat) dalam Al-Qur’an. Apalagi pada masa beliau kekuasan kaum muslimin telah menyebar sedemikian luasnya. Sementara para sahabat terpencar-pencar di berbagai daerah, yang masing-masing memiliki bacaan/ qiraat yang berbeda dengan qiraat sahabat lainnya. (Qiraat sab’ah). Kondisi seperti ini membuat suasana kehidupan kaum muslimin menjadi sarat dengan perselisihan, yang dikhawatirkan mengarah pada perpecahan. Pada saat itulah, Hudzifah bin al-Yaman melaporkan ke Utsman bin Affan, dan disepakati oleh para sahabat untuk mrnyslin mushaf Abu Bakar dengan bacaan/ qiraat yang tetap pada satu huruf. Utsman memerintahkan kepada (1) Zaid bin Tsabit, (2) Abdullah bin Zubair, (3) Sa’d bin ‘Ash, (4) Abdul Rahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin dan memperbanyak mushaf. Dan jika terjadi perbedaan diantara mereka, maka hendaknya Al-Qur’an ditulis dengan logat Quraisy. Karena dengan logat Quraisylah Al-Qur’an diturunkan. Setelah usai penulisan Al-Qur’an dalam beberapa mushaf, Utsman mengirimkan ke setiap daerah satu mushaf, serta beliau memerintahkan untuk membakar mushaf atau lembaran yang lain. Sedangkan satu mushaf tetap di simpan di Madinah, yang akhirnya dikenal dengan sebutan mushaf imam. Kemudian mushaf asli yang dipinta dari Hafsah, dikembalikan pada beliau. Sehingga jadilah Al-Qur’an dituliskan pada masa Utsman dengan satu huruf, yang sampai pada tangan kita. (Al-Qatthan, 1995 : 128 – 131)
Dalam setiap huruf Al-Qur’an yang kita baca, memiliki
nilai ibadah yang tiada terhingga besarnya. Dan inilah keistimewaan
Al-Qur’an, yang tidak dimiliki oleh apapun yang ada di muka bumi ini.
Allah berfirman (QS. 35 : 29 – 39)
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ
وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلاَنِيَةً يَرْجُونَ
تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ*
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ*
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ*
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab
Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang
Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan,
mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah
menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka
dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Mensyukuri.”
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW juga pernah mengatakan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ
فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم
حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ (رواه
الترمذي)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda,
‘Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an), maka
ia akan mendapatkan satu kebaikan. Dan satu kebaikan itu dengan sepuluh
kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim sebagai satu
haruf. Namun Alif merupakan satu huruf, Lam satu huruf dan Mim juga satu
huruf.” (HR. Tirmidzi)
Konsekwensi Keimanan Terhadap Al-Qur’an.
Sebenarnya Allah SWT tidak pernah memaksa umat
manusia untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka. Allah
hanya memberikan yang terbaik dan yang lpaling sesuai dengan manusia
dalam menapaki serta meniti jalan kehidupan ini agar mereka mendapatkan
kebahagian hakiki baik di dunia maupun di akhirat. Hanya mereka-mereka
yang dapat berfikir sehatlah, yang mau menjadikan Al-Qur’an sebagai
kitabul hidayah dalam segala aspek kehidupan mereka. Bagi mereka yang
memiliki keimanan kepada Allah, terdapat beberapa hal yang menjadi
konsekwensi keimanan mereka terhadap Al-Qur’an, yaitu:
1. (الأنس به) Senantiasa ‘dekat’ dengan Al-Qur’an.
1. (الأنس به) Senantiasa ‘dekat’ dengan Al-Qur’an.
Dekat dengan Al-Qur’an maksudnya adalah senantiasa
memiliki keinginan untuk berinteraksi secara dekat dengan Al-Qur’an.
Interaksi ini tergambarkan dalam dua hal:
a) (تعلمه) Mempelajarinya.
a) (تعلمه) Mempelajarinya.
Al-Qur’an ibarat lautan yang sarat dengan
mutiara-mutiara yang tiada terhingga jumlahnya. Dari sisi manapun kita
membuka lembaran-lembaranya, akan kita jumpai hal-hal yang tidak pernah
kita dapatkan sebelumnya di manapun. Oleh karena itulah, mempelajari
Al-Qur’an merupakan satu hal yang teramat sangat penting dalam kehidupan
manusia. Generasi awal umat ini dapat maju dan menjadi pemimpin dunia,
adalah karena mereka benar-benar mempelajari Al-Qur’an untuk kemudian
diamalkannya. Mempelajari Al-Qur’an mecakup beberapa aspek:
• (تلاوة) Dari sisi tilawahnya, mencakup tajwid,
makharijul huruf, qiraah dan lain sebagainya. Sehingga dirinya dapat
membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Karena jika terdapat kesalahan
dalam membaca, berakibat pada perubahan maknanya. Dalam sebuah hadits
dikatakan:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ
الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ
عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ (رواه مسلم)
Dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Seseroang
yang mahir dalam membaca Al-Qur’an, kelak ia akan dikumpulkan bersama
para malaikat yang mulia dan suci. Dan orang yang masih terbata-bata
membacanya lagi berat, maka ia akan mendapatkan pahala dua kali lipat.
(HR. Muslim)
• (فهما) Dari sisi pemahamannya, mencakup masalah
ibadah, muamalah, jihad, dan lain sebagainya. Pemahaman sangat penting
karena merupakan pijakan dalam mengaplikasikannya dalam kehidupan riil.
Tanpa pemahaman yang baik, tentulah akan sulit dalam merealisasikan
Al-Qur’an pada kehidupan nyata. Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an
mengenai mereka-mereka yang tidak mau memahami ayat-ayat Allah (QS. 7 :
179):
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإِنْسِ لَهُمْ
قُلُوبٌ لاَ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَ يُبْصِرُونَ بِهَا
وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka
Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi
tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah
orang-orang yang lalai.
• (تطبيقا) Dari sisi perealisasiannya, mencakup
bidang ekonomi, sosial, politik dsb. Karena merealisasikan Al-Qur’an
dalam kehidupan nyata merupakan perintah Allah kepada seluruh umat
Islam. Artinya hal ini sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan.
Allah berfirman (QS. 5 : 44)
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
• (حفظا) Dari sisi menghafal ayat-ayat dan
surat-surat dalam Al-Qur’an. Karena menghafal Al-Qur’an memiliki
keistimewaan tersendiri. Dahulu para sahabat, kebanyakan dari mereka
hafal Al-Qur’an. Demikian juga para salafuna shaleh, serta para
Imam-Imam kaum muslimin. Ahli Tafsir pun memberikan syarat kehursan
hafal Al-Qur’an bagi siapa saja yang ingin menjadi penafsirnya. Mengenai
keutamaan penghafal Al-Qur’an Rasulullah SAW pernah bersabda:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَحَفِظَهُ أَدْخَلَهُ
اللَّهُ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
كُلُّهُمْ قَدْ اسْتَوْجَبُوا النَّارَ (رواه ابن ماجه)
Dari Ali bin Abi Thalib, ra, Rasulullah SAW bersabda,
‘Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, maka Allah akan
memasukkannya ke dalam surga dan memberinya hak syafaat untuk sepuluh
anggota keluarganya yang telah ditetapkan masuk neraka. (HR. Ibnu Majah)
b) (تعليمه) Mengajarkannya pada orang lain.
Sebagai seorang muslim yang baik, tidak akan merasa
cukup dengan mempelajarinya saja untuk kemudian dijadikan bekal bagi
dirinya sendiri. Namun lebih dari itu, setiap muslim memiliki kewajiban
untuk mengajarkannya kepada orang lain. Bahkan dalam sebuah hadits
Rasulullah SAW mengatakan bahwa pengajar Al-Qur’an adalah sebaik-baik
mu’min:
عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ
وَعَلَّمَهُ (رواه البخاري)
Dari Utsman ra, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebaik-baik
kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya). (HR.
Bukhari)
Mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain juga mencakup
empat hal dalam mempelajarinya, yaitu, dari segi tilawah, pemahaman,
pengaplikasian dan penghafalannya.
2. (تربية النفس به) Mentarbiyah diri dengan Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan Kitabul Hidayah, yang dapat
merubah suatu kondisi masyarakat dari kejahiliyahan menuju masyarakat
Islam. Rasulullah SAW telah membuktikannya dengan merubah kondisi bangsa
Arab yang suka peperangan, perampasan hak, kedustaan, khomer,
perzinaan, pembunuhan, riba dan lain sebagainya menjadi masyarakat yang
cinta perdamaian, persamaan hak, kejujuran, kasih sayang, keadilan dan
lain sebagainya. Kesemuanya dapat dilakukan karena Al-Qur’an merupakan
kitabul hidayah; memberikan hidayah kepada manusia dari kegelapan menuju
cahaya Islam yang terang benderang. Al-Qur’an banyak sekali
mengungkapkan mengenai fungsi Al-Qur’an sebagai kitabul hidayah,
diantaranya adalah:
الم* ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ*
الم* ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ*
“Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”
3. (التسليم لأحكامه) Menerima sepenuh hati segala hukum yang terdandung di dalamnya.
Jika kita memahami bahwa bahwa Al-Qur’an merupakan
Kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW, tentulah kita akan
dengan segera melaksanakan isi kandungan dari Al-Qur’an. Karena segala
perintah, larangan, pesan atau apapun yang terdapat di dalamnya,
merupakan perintah, larangan, pesan dari Allah SWT. Dan di sinilah
keimanan kita akan diuji oleh Allah SWT. Orang yang beriman, ia akan
dengan segera melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Allah berfirman (QS. 33 : 36)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ
اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan
tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya
telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang
lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan
Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
4. (الدعوة إليه) Berda’wah (mengajak) orang lain kepada Al-Qur’an.
Karena kita meyakini bahwa hanya Al-Qur’anlah
satu-satunya pedoman hidup yang dapat membahagiakan manusia baik di
dunia maupun di akhirat. Hanya Al-Qur’anlah yang dapat memberikan
keteduhan, ketenangan dan kesejukan dalam tiap diri insan. Al-Qur’an
telah terbukti menjadikan umat Islam mampu menjadi pemimpin dunia dalam
kurun waktu yang relatif lama. Al-Qur’an juga mampu merubah kondisi
suatu bangsa dari jurang kebobrokan menuju puncak kemuliaan. Oleh karena
itulah, salah satu konsekwensi keimanan kita kepada Al-Qur’an adalah
mengajak mereka dengan cara yang bijak untuk bersama-sama menjadikan
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Allah SWT mengatakan (QS. 16 : 125)
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ
أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk.”
5. (إقامته في الأرض) Menegakkannya di muka bumi.
Allah SWT telah menuntut pada kaum-kaum yang
terdahulu untuk menegakkan agama-Nya di muka bumi, maka demikian pula
halnya dengan umat Islam. Allah menuntut pada kita untuk menegakkan
agama-Nya, dengan menegakkan Al-Qur’an. Menegakkan Al-Qur’an adalah
dengan menegakkan hukum-hukumnya di muka bumi yang menjadi hukum seluruh
umat manusia di manapun mereka berada. Allah SWT berfirman (QS. 42 :
13)
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا
إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ
أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ
مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ
وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
“Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang
telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan
kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa
yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka
kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”
Karena sesungguhnya Allah SWT telah memberikan janji
untuk menegakkan agama ini sebagaimana telah ditegakkan oleh umat-umat
sebelum kita. Bagaimanapun kondisinya, suatu ketika Al-Islam akan
menjadi pedoman hidup dan hukum yang menjadi acuan bagi kehidupan
seluruh umat manusia. Allah mengatakan (QS. 24 : 55)
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِهِمْ
وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ
بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ
بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh
Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk
mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah
mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap
menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan
barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik.”
Al-Qur’an Sebagai Minhajul Hayah.
Konsepsi inilah yang pada akhirnya dapat mengeluarkan
umat manusia dari kejahiliyahan menuju cahaya Islam. Dari kondisi tidak
bermoral menjadi memiliki moral yang sangat mulia. Dan sejarah telah
membuktikan hal ini terjadi pada sahabat Rasulullah SAW. Sayid Qutub
mengemukakan (1993 : 14) :
“Bahwa sebuah generasi telah terlahir dari da’wah –
yaitu generasi sahabat – yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam
sejarah umat Islam, bahkan dalam sejarah umat manusia secara
keseluruhan. Generasi seperti ini tidak muncul kedua kalinya ke atas
dunia ini sebagaimana mereka… Meskipun tidak disangkal adanya beberapa
individu yang dapat menyamai mereka, namun tidak sama sekali sejumlah
besar sebagaimana sahabat dalam satu kurun waktu tertentu, sebagaiamana
yang terjadi pada periode awal dari kehidupan da’wah ini…”
Cukuplah kesaksian Rasulullah SAW menjadi bukti kemulyaan mereka, manakala beliau mengatakan dalam sebuah haditsnya:
عن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ
الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Dari Imran bin Hushain ra, Rasulullah SAW bersabda:
‘Sebaik-baik kalian adalah generasi yang ada pada masaku (para sahabat) ,
kemudian generasi yang berikutnya (tabi’in) , kemudian generasi yang
berikutnya lagi (atba’ut tabiin). (HR. Bukhari)”
Imam Nawawi secara jelas mengemukakan bahwa yang
dimaksud dengan ‘generasi pada masaku’ adalah sahabat Rasulullah SAW.
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW juga mengemukakan mengenai keutamaan
sahabat:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي
فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ
أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ (رواه البخاري)
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra, Rasulullah SAW bersabda,
‘Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Karena sekiranya salah
seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya
ia tidak akan dapat menyamai keimanan mereka, bahkan menyamai
setengahnya pun tidak. (HR. Bukhari).
Sayid Qutub mengemukakan (1993 : 14 – 23) , terdapat
tiga hal yang melatar belakangi para sahabat sehingga mereka dapat
menjadi khairul qurun, yang tiada duanya di dunia ini. Secara ringkasnya
adalah sebagai berikut:
pertama, karena mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai
satu-satunya sumber petunjuk jalan, guna menjadi pegangan hidup mereka,
dan mereka membuang jauh-jauh berbagai sumber lainnya.
Kedua, ketika mereka membacanya, mereka tidak
memiliki tujuan untuk tsaqofah, pengetahuan, menikmati keindahannya dan
lain sebainya. Namun mereka membacanya hanya untuk mengimplementaikan
apa yang diinginkan oleh Allah dalam kehidupan mereka.
Ketiga, mereka membuang jauh-jauh segala hal yang
berhubungan dengan masa lalu ketika jahiliah. Mereka memandang bahwa
Islam merupakan titik tolak perubahan, yang sama sekali terpisah dengan
masa lalu, baik yang bersifat pemikiran maupun budaya.
Dengan ketiga hal inilah, generasi sahabat muncul
sebagai generasi terindah yang pernah terlahir ke dunia ini. Di sebabkan
karena ‘ketotalitasan’ mereka ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an,
yang dilandasi sebuah keyakinan yang sangat mengakar dalam lubuk
sanubari mereka yang teramat dalam, bahwa hanya Al-Qur’an lah
satu-satunya pedoman hidup yang mampu mengantarkan manusia pada
kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat.
Penutup
Tinggallah dua pilihan masih ternganga di hadapan
kita; antara jaya dengan Al-Qur’an, atau binasa dengan meninggalkannya.
Sejarah telah berbicara sebagai fakta abadi; bahwa umat ini dapat
memperoleh izzahnya dengan Al-Qur’an. Dan merekapun Allah kerdilkan
karena meninggalkan Al-Qur’an. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW
mengatakan:
عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا
الْكِتَابِ
أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
Dari Umar bin Khatab ra. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT akan mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab
ini (al-Qur’an), dengan dengannya pula Allah akan merendahkan kaum yang
lain.” (HR. Muslim)
Wallahu A’lam Bis Shawab.By. Rikza Maulan, Lc., M.Ag.
Bahan Bacaan
Hadiri, Choiruddin. Klaifikasi Kandungan Al-Qur’an. 1996. Cet. V. Jakarta – Indonesia : Gema Insani Press.
Al-Qatthan, Manna’. Mabahits fi Ulumil Qur’an. 1995 – 1416 H. Cet. XXVII. Beirut – Libanon : Mu’assasah al-Risalah.
Quthb, Sayyid. Ma’alim fi Al-Thariq. 1993 – 1413 H. Cet. XVII. Beirut – Libanon / Kairo – Mesir: Dar Al-Syuruq.
Syahbah, Muhammad ibn Muhammad. Al-Sirah Al-Nabawiyah Fi Dhau’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah : Dirasah Muharrarah, Jama’at Bain Ashalah Al-Qadim wa Jiddatil Hadits. 1996 – 1417 H. Cet. III. Damaskus : Dar Al-Qalam.
CD. ROM. Fi Dzilal Al-Qur’an. Versi 1.6. Amman – Yordania : Dar Husibah al-Nash al-Araby (Arabic Text ware).
CD. ROM. Al-Qur’an 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).
CD. ROM. Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.
Al-Qatthan, Manna’. Mabahits fi Ulumil Qur’an. 1995 – 1416 H. Cet. XXVII. Beirut – Libanon : Mu’assasah al-Risalah.
Quthb, Sayyid. Ma’alim fi Al-Thariq. 1993 – 1413 H. Cet. XVII. Beirut – Libanon / Kairo – Mesir: Dar Al-Syuruq.
Syahbah, Muhammad ibn Muhammad. Al-Sirah Al-Nabawiyah Fi Dhau’ Al-Qur’an wa Al-Sunnah : Dirasah Muharrarah, Jama’at Bain Ashalah Al-Qadim wa Jiddatil Hadits. 1996 – 1417 H. Cet. III. Damaskus : Dar Al-Qalam.
CD. ROM. Fi Dzilal Al-Qur’an. Versi 1.6. Amman – Yordania : Dar Husibah al-Nash al-Araby (Arabic Text ware).
CD. ROM. Al-Qur’an 6.50 & Al-Hadits. Syirkah Sakhr li Baramij al-Hasib (1991 – 1997).
CD. ROM. Mausu’ah al-Hadits al-Syarif 2.00 (Al-Ishdar al-Tsani). Syirkah al-Baramij al-Islamiyah al-Dauliyah.
Langganan:
Postingan (Atom)